Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Februari 2015

Dosa


Dosa merupakan penyebab seseorang mendapatkan adzab dari Alloh Ta’ala. Semakin banyak seseorang melakukan perbuatan dosa maka adzab dan siksa dari Alloh semakin pedih ia terima. Maka kita lihat banyak firman Alloh menceritakan tentang keadaan orang yang berdosa pada hari kiamat nanti, diantaranya adalah :
وَتَرَى الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ

“Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu.” (QS : Ibrahim : 49)

Alloh juga berfirman :

كَذَٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِينَ

“Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa.” (QS : Al Mursalat : 18)

خَالِدِينَ فِيهِ ۖ وَسَاءَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِمْلًا

“mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat,” (QS : Thaaha : 101)

Oleh karenanya Alloh mewanti-wanti kita agar sekali-kali tidak mengerjakan perbuatan dosa dan menjauhinya, Dia berfirman :

وَذَرُوا ظَاهِرَ الْإِثْمِ وَبَاطِنَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَكْسِبُونَ الْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ

“Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.” (QS : Al An’aam : 120)

Lalu apakah dosa itu,..??

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa pada asalnya dosa itu terjadi dari dua perkara. Pertama ‘tarku ma’mur’ (meninggalkan hal yang di perintahkan oleh Alloh), dan kedua ‘fi’lu mahdzur’ (mengerjakan perkara yang di larang oleh Alloh). Dua hal inilah yang menimpa bapak moyang dari manusia dan jin, yaitu Nabi Adam dan Iblis -la’natulloh ‘alaih-.

Senin, 11 Agustus 2014

"WAHABI" Yang Terdhalimi

Oleh : Abu Ruqoyyah Setyo Susilo


Dunia dakwah di negeri ini kembali tercoreng  (setidaknya saat artikel ini di tulis, sekitar bulan Desember 2011 - namun hingga saat ini isu wahabi juga masih santer terdenganr di telinga kita, apalagi berbarengan dengan isu ISIS) dengan hujatan-hujatan dan caci makian terhadap salah satu manhaj dakwah yang sering orang sebut sebagai Wahabi. Di sebut wahabi ini karena kemiripan dakwah yang mereka usung dengan prinsip-prinsip dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Meskipun sebutan ini sebenarnya muncul bukan dari pelaku dakwah itu sendiri, namun sebutan itu muncul dari orang-orang yang membenci prinsip dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

Selasa, 11 Februari 2014

Bahaya Manhaj “Takfiri”,.!!

Oleh : Abu Ruqoyyah Setyo Susilo



Diantara aqidah menyimpang yang banyak berkembang di Negara kita adalah aqidah atau pemahaman ‘takfiri’. Yaitu satu pemahaman yang sangat bermudah-mudahan memberikan vonis kafir kepada orang lain. Aqidah ini merupakan warisan dari kaum Khowarij yang mana termasuk kegemaran mereka sangat bermudah-mudahan dalam urusan ini. Hal ini sangat bertolak belakang dengan keyakinan ahlus sunnah yaitu para pendahulu kita yang shalih dan orang-orang setelahnya yang berjalan di atas jalan mereka, yang mereka tidak mengkafirkan orang tertentu dari kaum Muslimin yang melakukan sesuatu yang di nilai sebagai kekafiran kecuali setelah adanya hujjah yang nyata. [lihat Al Wajiz fi Aqidatis Salafis Shalih Ahlis Sunnati wal Jamaah 97 Maktabah Syamilah]

Seseorang yang telah terbukti keislamanya secara meyakinkan maka keislaman tersebut tidaklah hilang hanya dengan keragu-raguan. Jika kita melihat seorang Muslim yang terlihat dengan pasti tanda-tanda keislamanya, seperti shalat, puasa, zakat dan yang lainya maka tidak boleh kita memvonisnya dengan sebutan kafir atau sejenisnya sebelum terlihat jelas kekafiranya, bukan karena sekedar sesuatu yang belum jelas atau sekedar kira-kira.

Selasa, 28 Januari 2014

LOYALITAS Yang Di SYARIATKAN Dan Yang Di LARANG,.!

Al wala atau dengan kata lain loyalitas secara bahasa adalah al mahabbah, an nusrah dan al qurb, yaitu kecintaan, pertolongan dan kedekatan. Dan secara istilah sebagaimana di jelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz al Jibrin :

 “Sifat mencintai kaum Mukminin di karenakan keimanan mereka, menolong mereka , menasehati, dan menyayangi mereka, serta semua sifat yang mengarah pada hal-hal tersebut yang merupakan hak kaum Mukminin.”

Loyalitas ini menjadi hak bagi setiap Muslim dari saudaranya, selama ia tidak terjatuh ke dalam dosa-dosa besar. Adapun apabila seorang Muslim itu terjatuh ke dalam dosa-dosa besar seperti riba, ghibah, zina, isbal dan yang lainnya maka wujud loyalitas itu berdasarkan kadar ketaatanya, serta di benci berdasarkan kadar kemaksiatannya pula.

Kecintaan atau loyalitas kepada seorang Muslim yang bermaksiat adalah dengan meng-hajr nya, apabila dengan hal itu ia akan meninggalkan kemaksiatan yang ia lakukan. Ini sebagaimana yang pernah di lakukan oleh Nabi Shalallohu ‘alaihi wa Sallam kepada tiga orang yang berpaling dari perang tabuk, beliau menyuruh para sahabat supaya meng-hajr mereka. Maka para sahabat pun tidak berbicara kepada tiga orang tersebut selama lima puluh hari.[1]

Minggu, 08 Desember 2013

BENARKAH KESYIRIKAN PADA ZAMAN INI LEBIH PARAH DARI PADA KESYRIKAN PADA MASA DAHULU,.?

Oleh : Abu Ruqoyyah Setyo Susilo

“Bahwasanya orang-orang musyrik  pada masa ini lebih parah (dalam hal berbuat kesyirikan) dari pada orang-orang musyrik  pada masa lalu,..”. [Al Qowaid Al Arba’ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab]

Itu merupakan salah satu penggalan kalimat yang di tuliskan oleh salah seorang ulama, yaitu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kutaib beliau yang berjudul Al Qowaid Al Arba’. Meskipun tidak terlalu panjang apa yang beliau uraikan di buku tersebut akan tetapi sangat sarat dengan faedah. Pada pembahasan kali ini akan coba kita kupas lebih mendalam mengenai ucapan beliau diatas, khususnya penjelasan beliau mengenai bahwasanya orang-orang musyrik pada zaman ini lebih lebih parah dalam hal kesyirikannya dari pada orang-orang terdahulu.

Kamis, 21 November 2013

Sekali Lagi, Waspadai Sikap Ghuluw,..!

Oleh : Abu Ruqoyyah Setyo Susilo

Alloh Ta'ala memerintahkan kita agar senantiasa berjalan diatas jalanNya yaitu berdasarkan Al qur'an dan Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, serta tidak keluar dari padanya. Alloh berfirman :

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (selain jalan itu) maka kalian akan terpisah dari jalan itu, yang demikian itu Alloh mewasiatkan kepada kalian hal itu agar kalian bertakwa". (QS : Al An'am : 153)

Akan tetapi iblis dan bala tentaranya tidak akan tinggal diam, ia akan berupaya memalingkan manusia dari jalan lurus tersebut. Apabila manusia itu seorang ahli maksiat maka iblis dan syaiton akan menghiasi pandangannya dengan syahwat, adapun apabila manusia itu seorang ahli ibadah maka iblis dan syaiton akan menghiasinya dengan ghuluw untuk menghancurkan agamanya.

Ibnu Abbas mengabarkan :

Sabtu, 28 September 2013

DIANTARA PEMBATAL KEISLAMAN ; ‘BARANG SIAPA BERKEYAKINAN BAHWA SEBAGIAN MANUSIA TIDAK WAJIB MENGIKUTI SYARIAT MUHAMMAD, DAN KEYAKINAN BOLEHNYA IA KELUAR DARI SYARIAT ITU SEBAGAIMANA KHIDIR KELUAR DARI SYARIAT MUSA’


Oleh ; Abu Ruqoyyah Setyo Susilo

Kisah Khidir dan Musa ini di ceritakan oleh Alloh di dalam Al Qur’an, surat Al Kahfi ayat 65-82. Sebagian orang berdalil dengan cerita Khidir di dalam  Al Qur’an, surat Al Kahfi ayat 65-82 sebagai pembenar dari keyakinan batil mereka tentang adanya manusia yang boleh keluar dari syariat Nabi -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam-, atau bolehnya seseorang keluar dari syariatnya. Mereka mengqiyaskan dengan cerita di dalam ayat-ayat tersebut. Ketahuilah bahwa hal ini merupakan aqidah yang sesat lagi menyesatkan. Hal itu karena beberapa sebab, yaitu ;

Kamis, 20 Desember 2012

Sisa-Sisa Khurofat Masa Jahiliyah

Khurofat dalam bahasa arab berasal dari kata khorofa, yaitu rusaknya akal karena proses penuaan (Jamharatul Lughah / 1 / 308 Makabah Syamilah). Sedangkan makna secara bahasa dari kata ini di kaitkan dengan nama seorang laki-laki dari kalangan bani ‘Udzrah (yang bernama khurofah) yang di culik oleh Jin, ketika ia kembali kepada kaumnya kemudian ia menceritakan apa yang di alami dan di lihatnya, akan tetapi kaumnya mendustakannya dan tidak mempercayainya. Maka mereka lantas mengatakan “cerita khurofah”. (Mukhtaaru as Sihhah / 84 / Makabah Syamilah)

Selasa, 07 Agustus 2012

Lailatul Qadar Itu Nyata Adanya, Jangan Kau Dustakan,..!!

Terhenyak dan kaget, itulah yang saya rasakan tatkala mendengar perkataan salah seorang ikhwah yang merupakan mantan anggota salah satu Majelis Tafsir yang tak asing lagi namanya saat ini dan cukup masyhur. Ikhwah tersebut bercerita kepada saya mengenai aqidah yang di sampaikan salah seorang Ustadz kelompok pengajian tersebut berkaitan dengan masalah Lailatul Qadar. Sang Ustadz mengatakan bahwa Malam Lailatul Qadar itu hanyalah terjadi sekali yaitu pada waktu Al Qur’an di turunkan, adapun sekarang tidak terjadi lagi. Sang Ustadz mengqiyaskan dengan kejadian kemerdekaan bangsa kita yaitu tanggal 17 Agustus 1945, maka Lailatul Qadar kurang lebihnya sama seperti itu. Benarkah pengqiyasan tersebut,..??! Saya coba paparkan permasalahan ini sebagaimana di bawah,.semoga Alloh mudahkan.

Jumat, 29 Juni 2012

Apakah Benar Alloh Turun Ke Langit Dunia Pada Malam Nisfu Sya’ban,.?

Keyakinan semacam ini banyak di miliki oleh kaum Muslimin, yaitu bahwa Alloh Ta’ala pada malam nisfu sya’ban turun ke langit dunia. Keyakinan mereka bukan tanpa alasan, di karenakan memang terdapat hadits yang menjelaskannya. Namun apabila kita lihat derajat hadits yang menjelaskan bahwa Alloh turun ke langit dunia pada malam nisfu sya’ban tidak dapat di jadikan hujjah, bahkan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa haditsnya maudhu’ (palsu).

Senin, 11 Juni 2012

Diantara Pembatal Keislaman, “Tidak Mengkafirkan Orang Kafir”

Diantara perkara yang tak di ragukan lagi termasuk bagian dari keimanan adalah mencintai saudara seiman dan menolong menolong mereka jika mereka membutuhkanya. Bahkan hal ini di tekankan oleh Nabi -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam- lewat sabda beliau :

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman (dengan sempurna) salah seorang dari kalian hingga ia bisa mencintai saudaranya (seiman) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR : Bukhari & Muslim)

Rabu, 30 Mei 2012

Bukan Karena Mereka Menjadikan Berhala Sebagai Rabb, Namun Karena Mereka Bertawasul Melaluinya,.!

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat- dekatnya." (QS : Az Zumar : 3)

Judul di atas bukanlah sebuah justifikasi bahwa segala macam bentuk tawasul itu di larang, tidak demikian, Karena pada dasarnya tawasul itu ada yang di perbolehkan dan ada yang di larang. Telah kita ketahui bersama bahwa tawasul merupakan satu hal yang di anjurkan oleh Alloh Ta’ala. Tentunya kita sudah hafal mengenai ayat yang menerangkan tentang anjuranya, yaitu firman Alloh Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya..”. (QS : Al Maidah : 35)

Namun tawasul seperti apakah yang seperti apakah yang maksud dalam ayat itu,.?

Selasa, 08 Mei 2012

Kenalilah Pembatal-Pembatal Tauhid,.! (Bag. 6 Terakhir)

Nifaq Akbar (nifaq I’tiqodi)

Poin utama ketiga atau yang terakhir merupakan pembatal tauhid adalah Nifaq Akbar. Adapun nifaq secara bahasa pengertiannya adalah : “menyembunyikan sesuatu dan menyamarkannya.”

Secara istilah adalah : seseorang menunjukkan keimanannya terhadap Alloh, malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari akhir akan tetapi bersamaan dengan itu dia menyembunyikan perbuatan-perbuatan yang bisa membatalkan keimanan tersebut, sebagian atau seluruhnya.

Selasa, 10 April 2012

Kenalilah Pembatal-Pembatal Tauhid,.! (Bag. 5)

Kufur Akbar

Poin utama kedua yang merupakan pembatal tauhid adalah kufur akbar. Adapun pengertiannya secara istilah adalah segala macam I’tiqad (keyakinan), perkataan ataupun perbuatan yang dapat membatalkan keimanan.

Maka kufur akbar sebagaimana definisi diatas bisa terjadi dengan keyakinan, perkataan, atau bisa juga terjadi dengan perbuatan (meskipun tanpa di sertai keyakinan dalam perkataan atau perbuatan tersebut). Adapun hukum kufur akbar adalah sebagaimana hukum syirik akbar yaitu dapat mengeluarkan pelakunya dari Millah (agama). Jika seorang Mukmin terjatuh dalam perbuatan semacam ini maka hukumnya adalah murtad, dan baginya di berlakukan ahkamul murtadin (hukum bagi orang-orang yang murtad), diantaranya adalah diancam untuk di bunuh apabila dia tidak bertaubat dan kembali kepada Islam, sebagaimana sabda Nabi :

Rabu, 14 Maret 2012

Kenalilah Pembatal-Pembatal Tauhid,.! (Bag. 4)

3. As-Syirku Fil Asma’ wa as-Sifat (Syirik dalam Asma’ wa Sifat Alloh)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa yang termasuk keimanan kepada Alloh adalah : “Keimanan terhadap apa yang Alloh Ta’ala sifati mengenai Dirinya sendiri sebagaimana dalam kitab-Nya dan yang di sifati Rosululloh Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam di dalam Sunnah.”

Yang menjadi dasar dari hal ini adalah firman Alloh Ta’ala :

Kamis, 08 Maret 2012

Ini lho Dalil Bertawasul,..! (Telaah Kritis)

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِىُّ قَالَ حَدَّثَنِى أَبِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ - رضى الله عنه - كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا . قَالَ فَيُسْقَوْنَ

“Telah mengatakan kepada kami Al Hasan Ibnu Muhammad, beliau mengatakan telah mengatakan kepada kami Muhammad Ibnu Abdillah Al Anshari ia mengatakan telah mengatakan kepadaku bapakku, yaitu Abdullah Ibnu Al Mutsanna dari Tsumamah Ibnu Abdillah Ibnu Anas dari Anas bahwasanya Umar bin Khatab semoga -Alloh maridhai beliau- apabila musim kemarau menimpa mereka beliau meminta hujan melalui perantaraan Al Abbas bin Abdul Muthalib. Beliau mengatakan ; "Ya Allah, kami telah bertawasul kepada-Mu melalui Nabi kami dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul melalui Paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami..”. Kemudian diturunkanlah hujan kepada mereka.”

Hadits di atas merupakan hadits mauquf, di keluarkan oleh Imam Bukhari pada kitab Al Jumu’ah nomor 954, dan pada kitab Al Manakib nomor 3434. Demikian pula Ibnu Khuzaimah mengeluarkannya dari Muhammad bin Yahya. Perbedaanya Imam Bukhari mengambil dari Al Hasan Ibnu Muhammad, sedangkan Ibu Khuzaimah mengambil dari Muhammad bin Yahya. Keduanya mengambil dari Muhammad Ibnu Abdillah Al Anshari dan seterusnya sampai pada Anas bin Malik.

Selasa, 28 Februari 2012

Kenalilah Pembatal-Pembatal Tauhid,..! (Bag. 3)

Pembahasan kita sampai pada penjelasan syirik dalam rasa cinta (as syirku fil mahabbah), yang mana, pada dasarnya rasa cinta itu terbagi menjadi tiga macam :

Jumat, 17 Februari 2012

Kenalilah Pembatal-Pembatal Tauhid,..! (Bag. 2)

Pada edisi yang lalu telah kita bahas mengenai macam macam syirik akbar, dan kita sampai pada pembahasan As-Syirku fi al-Uluhiyah. Dan telah kita jelaskan pula bahwa diantara macamnya adalah As-Syirku bishorfi Syai’in minal ‘ibadati lighoirillahi (memalingkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Alloh I). Maka pada kesempatan kali ini akan kita bahas secara terperinci akan hal ini yaitu mengenai As-Syirku bishorfi Syai’in minal ‘ibadati lighoirillahi.

Jenis kesyirikan semacam ini pun terbagi menjadi dua macam, yakni :

Minggu, 12 Februari 2012

Kenalilah Pembatal-Pembatal Tauhid..! (Bag.1)

Perkara ini tampaknya belum banyak di kenal atau di ketahui oleh umat Islam di negara kita tercinta ini. Ini terbukti dengan masih banyak ditemukannya fenomena-fenomena kesyirikan yang mewarnai segenap aktivitas masyarakat. Mulai dari pelaksanaan upacara-upacara adat, sampai tradisi ngalap berkah yang masih banyak dilakukan masyarakat (yang notabenya beragama Islam). Dikarenakan perkara ini merupakan perkara penting yang harus diketahui oleh setiap mukmin maka di sini akan kami paparkan sedikit pembahasan mengenai pembatal-pembatal tauhid atau kita kenal dengan istilah Nawaqidhu at-Tauhid.

Sabtu, 04 Februari 2012

MAULUD NABI BUKTI CINTA KEPADA NABI,..?

Setiap mukmin yang baik tentunya senantiasa berusaha untuk mencintai Alloh dan Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam-. Cinta yang tulus serta melebihi kecintaan kita terhadap apapun yang ada di dunia ini. Cinta kepada Alloh dan Rasul-Nya haruslah kita tempatkan pada posisi yang pertama dari semua kecintaan kita terhadap dunia serta isinya. Barang siapa yang kecintaanya kepada dunia serta isinya melebihi kecintaanya kepada Alloh dan Rasul-Nya maka ia telah terjatuh kepada ‘mahabbah syirkiyah’ (rasa cinta yang termasuk kesyirikan) yang di larang oleh agama serta dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam jika di sertai pengagungan kepada makhluk yang atau benda yang di cintainya tersebut. Orang tersebut termasuk dalam ketegori orang-orang yang di firmankan oleh Alloh Ta’ala dalam ayat :
 

ABU RUQOYYAH Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template | Supported by denkhoir